Jumat, 08 Juni 2012

geografi tanah_tanah alfisol


BAB I
PENDAHULUAN
            Alfisiol di Indonesia bersama dengan inceptisol, dan vertisolsecra potensial tanah yang subur sebagian besar telah di manfaatan untuk lahan pertanian. Padanan yang di sederhanakan untuk nama tanah alfisol menurut berbagai system klasifikasi USDA Soil Tax-onomy tahun 1975, aluvisol menurut legenda peta tanah FAO/Unesco tahun 1975,aluvisol menurut sisitem kalsifikasi Pusat Penelitian Tanah (1978 dan  1982), mediteran  menurut system klasifikasi Dudak Soepraptohadjo (1957, 1961).
            Penyebaran alfisiol di Indonesia menurut Munir (1984) terdapat di pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya, Bali, Nusa Tenggara barat dan Nusa Tenggara Timur dengan luas areal 12. 749.000 hektar. Muljadi dan Soepraptohardjo(1975 dalam Halim 1978) mengatakan bahwa di Sulawesi luas areal tanah alfisolini 2.930.000 hektar dan juga di temukan di Irian Jaya seluas 106.000 hektar.
            Penggunaan alfisol di Indonesia menurut Syarif (1986) di usahakan menjadi persawahan (padi)  baik tanah hujan ataupun berpengairan perkrbunan(buah – buahan), tegalan dan padang rumput Halam (1986) mengatakan  bahwa luas areal  tanal alfisol yang di usakan untuka tanaman padi sawah seluas 350.000 hektar dengan hasil 3 – 4 ton per hektarpada daerah yang beririgasi.
            Alfisol secara potensial termasuk tanah yang subur, meskipun bahaya erosi perlu mendapat perhatian. Hardjowigeno (1987) menagtakan bahwa untuk peningkatan produksi masih di perlukan usaha – usaha intensifikasi antara lain pemupukan dan pemeliharaan tanh serta tanaman yang sebaik – baiknya. Darmawijaya (1990) menambahkan bahwa jika tanha tersebut mendapat air yang secukupnya dapat di Tanami tebu, padi dan tanaman buah – buahan secara intensif.



            Berikut contoh gambar Alfisol adalah:
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/0/0e/Alfisol_profile.jpg/250px-Alfisol_profile.jpg 
http://soils.cals.uidaho.edu/soilorders/i/Alf_04.jpg
http://www.stthomas.edu/geography/faculty/kelley/physgeog/soils/taxonomy/4alfpr2.jpg
BAB II
PEMBAHASAN
A. KARAKTERISTIK ALFISOL
1. Faktor – Faktor Pembentuk Tanah
            Faktor – fakto pembentuk tanah terdiri dari bahan induk dan factor lingkungan yang mempengruhi perubahan bahan induk menjadi tanah . factor penbentuk tanah sebenarnya sangat banyak tetapi yang terpenting menurut Jenny(1941) dalam Harjdowigono (1975) adalah iklim,organisme, relief, bahan induk waktu.
a.       Bahan induk
            Alfisol terbentuk dari bahan induk yang mengandung karbonat dan tidak lebih tua dari pleistosin. Di daerah basah bahan induk biasanya lebih tua dari pada di daerah dingin.
b.      Relief
            Hubungan antara permukaan geomorfologik dengan jenis tanah ditunjukkan oleh asosiasi tanah  sesuai dengan kaadaan iklim bahan induk dan sebagainya.
            Di daerah beriklim humid (udic) di daerah dengan bahan induk yang terlalu muda untuk pembentukan oxisol di temukan asosiasi ultisol, alfisol, dan entisol atau enceptisol (tyler, 1975 dalam Harjdowigono1985). Di tempat tinggi dengan drainase baik di temukan tanah udult.
            Di daerah beriklim kering (ustic), proses pembentukan tanah pada bulan kering lebih lambat di bandingkan pda bulan basah. Keadaan ini , di samping sifat bhan induk, dapat menimbulkan beberapa asosiasi tanah, di daerah Afrika, Nye (1954 dalam Harjdowigono (1985) mengemukakan asosiasi alfisol yang mengandung plinthite dengan jumlah yang makin meningkat dan semakin dangkal karena drainase yang semakin buruk.
            Karena bahan induk diperkirakan sama, maka pencucian silika dan basa-basa dari lereng atas kelembah-lembah yang diikuti dengan pembentukan montmorilonit di tempat berdrainase buruk tersebut buruk tersebut,merupakan proses pembentukan tanah utama.

c.       Iklim
            Alfisol terbentuk pada iklim koppen Aw, Am dengan tipe curah hujan C, D, dan E (Schmidt dan ferguson 1951)  dengan bulan kering lebih dari tiga bulan. Sebagian ditemukan di daerah berriklim kering dan sebagian kecil di daerah beriklim basah. Alfisol ini dapat pula ditemukan pada wilayah dengan temperatur sedang dan subtropika dengan adanya pergantiuan usim hujan dan musim kering.
d.       Organisme
            Di daerah beriklim sedang seperti  di Amerika atau Eropa, hubungan antara vegetasi dengan jenis tanah, ditunjukkan oleh daerah yang ditumbuhi oleh vegetasi prairi (padang rumput), hutan dan peralihan prairi-hutan. Tanah yang terbentuk pada padang rumput adalah mollisols sedang di daerah hutan adalah alfisol. Diantara kedua jenis tanah tersebut ditemui jenis tanah peralihan mollisols-alfisol misalnya tanah argiudolls. Alfisol ditemukan juga di bawah hutan boreal atau deciduous broad leaf florest misalnya hutan jati.
            Di Indonesia hubungan seperti itu tidak jelas, mungkin karena tanah-tanah di Indonesia hampir seluruhnya tertutup oleh hutan sebagai vegetasi aslinya.
            Peranan organisme  lainnya dalam pembentukan tanah alfisol ditunjukkan pada tanah yang tertutup hutan. Cacing tanah (nielsen dan hole, 1964 dalam Buol et al, 1973) dan hewan-hewan lainnya berperan dalam proses percampuran bahan organik (serasah dan humus) dengan bahan mineral pada kedalaman 2-10 cm. Siklus unsur hara secara biologis dari subsoil ke horison O ka A merupakan proses penting pada tanah udalf. Hal tersebut menyebabkan keadaan netral (pH 6,5-7,0) pada permukaan tanah (A) dan lebih asam (pH 4,8-5,8) pada subsoil. Konsentrasi residu kalkareous dari jaringan cacing tanah dapat dilihat pada alfisol yang tertutup hutan.



e.       Waktu
            Lamanya waktu pembentukan tanah berbeda-beda dan dipengaruhi oleh bahan induk dan faktor lingkungan yang mempengaruhinya.
            Buol et al. (1973) mengemukakan bahwa pembentukan tanah Alfisol di Jwa Timur memerlukan waktu sekitar 5.000 tahun karena lambatnya proses akumulasi liat untuk membentuk horison argilik. Sedangkan di Indonesia berkisar antara 2000 hingga 7500 tahun berdasarkan tingkat perkembangan horisonnya.
2. Proses Pembentukan Tanah                      
            Alfisol merupakan order yang dicirikan oleh adanya  horison Argilik dan mempunyai kejenuhan basa yang tinggi. Urutan proses pembentukan tanah meliputi : Pencucian karbonat, pencucian besi, pembentukan epipedon ochrich (Horison A), pembentukan Horison albik dan pengendapan Argilan.
a.       Pencucian Karbonat
            Pencucian karbonat dan braunifikasi merupakan prasyarat untuk penbentukan Alfisol. Kalsium karbonat (dan bikarbonat) merupakan flocculant yang kuat sehingga dalam pembentukan Alfisol, karbonat boleh di cuci lebih dulu agar plasma menjadi lebih muda bergerak bersama dengan perkolasi. Dengan pencucian karbonat ini tanah menjadi lebih masam kadang-kadang sampai mencapai pH 4,5.
b.      Pencucian Besi
            Besi sebagai flocculant dengan kekuatan sedang mengalami pencucian setelah karbonat, dan di endapkan d horison B, sehingga warna tanah menjadi coklat (braunificatin).
c.       Pembentukan Epipedom Ochrik (Horison A)
            Bahan organik tidak tercampur terlalu dalam dengan bahan mineral, karena akar-akar halus tanaman hutan tidak banyak masuk ke dalam tanah dibandingkan dengan daerah padang rumput. Bahan organik yang terdapat diermukaan tanah dicampur dengan bahan mineral oleh cacing atau hewan-hewan lain, pada kedalaman 2-10 cm, sehingga terbentuk lapisan mull (horison A). Proses biocling unsur hara dan basa-basa dari subsoil ke horison O dan A merupakan proses yang penting untuk tanah Udalf, hal ini dapat menyebabkan reaksi tanah dipermukaan menjadi hampir netral (pH 6,5-7,0), sedang reaksi tanah di subsoil menjadi lebih masam (pH 4,8-5,8).
d.      Pembentukan Horison Albik
            Beberapa jenis Alfisol memiliki horison A2 yang jelas berwarna pucat yang disebut Horison Albik. Horison ini terbentuk sebagai akibat pencucian liat dan bahan organik, sedang  proses mineralisis sedikit sekali terjadi. Pencucian liat berjalan secara mekanik (lessivage) bersama air perkolasi. Horison Albik kadang-kadang juga mengandung cukup banyak bahan organik tetapi tidak berwarna. Mineral-mineral resisten seperti kuarsa menjadi lebih banyak di horison A dan rasio S1O2;R2O3 menjadi lebih tinggi dari Bt.
e.       Argillan
            Terjadinya pengendapan liat bersama seskuioksida dan bahan organik di horison Bt disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:
1)      Air perkolasi tidak cukup banyak sehingga tidak dapat meresap lebih jauh ke dalam tanah.
2)      Buti-butir tanah yang mengembang, menutup pori-pori tanah  sehingga air perkolasi lambat bergerak.
3)      Penyaringan oleh pori-pori halus yang tersumbat.
4)      Flukiolasi liat bernuatan negatif  oleh besi oksida yang bermuatan horison Bt dan oleh kejenuhan basa yang lebih tinggi di bagian bawah solum. Curah hujan yang tinggi setelah kemarau panjang mendorong pembentukan Alfisol. Pada beberapa jenis Alfisol ,liat di horison Argilik terbentuk in situ dari pelapukan bahan induk.
3.  Sifat-sifat Tanah
            Alfisol pada umumnya berkembang dari batu kapur, olivin, tufa dan lahar. Bentuk wilayah beragam dari bergelombang hingga tertoreh, tekstur berkisar antara sedang hingga halus, drainasenya baik. Reaksi tanah berkisar antara agak masam hingga netral, kapasitas tukar kation dan basa-basanya beragam dari rendah hingga tinggi, bahan organik pada umumnya sedang hingga rendah. Jeluk tanah dangkal hingga dalam. Mempunyai sifat kimia dan fisika relatif baik.

B.  KLASIFIKASI
            Pada saat ini di Indonesia, untuk  survei tanah di beberapa tempat banyak digunakan sistem klasifikasi  Pusat Penelitian Tanah, FAO/Unesco (1974) dan soil taxonomy, (1975).
            Mulai tahun 1988, dari hasil pertemuan teknis Pembakuan Sistem Klasifikasi dan Survei Tanah  di Cibineng Bogor, di Indonesia di canangkan penggunaan Taksonomi Tanah dari Soil Survey Staf/USDA(1975)
            Berikut ini akan di kemukakan klasifikasi tanah Alfisol menurut Pusat Penelitian Tanah, FAO/Unesco (1974) dan Soil Taxonomy (USDA,1975)
1.      Sistem Pusat Penelitian Tanah
            Sistem klasifikasi tanah yang berasal dari Pusat Penelitian Tanah dan telah banyak dikenal di Indonesia adalah Sistem Dudal Soepratohardjo (1957). Sistem ini mirip dengan system amerika serikat terdahulu yang dikemukakan oleh Baldwin, kellog dan throp (1938), throp  dan smith (1949) dengan beberapa modifikasi dan tambahan. Dengan dikenalnya system FAO/UNESCO (1974) dan system amerika serikat yang baru (Soil Taxonomy/USDA, (1975) system tersebut telah mengalami penyempurnaan. Perubahan tersebut terutama menyangkut defenisi jenis-jenis tanah (Great group) dan macam tanah (sub-group). Dengan perubahan-perubahan defenisi tersebut maka disamping nama-nama tanah lama yang tetap dipertahankan dikemukakan oleh nama-nama baru yang kebanyakan mirip dengan nama-nama tanah dari FAO/UNESCO, sedang sifat-sifat pembedanya digunakan horizon-horison penciri seperti yang dikemukakan oleh USDA dalam  Soil Taxonomy (1975) ataupun oleh FAO/UNESCO dalam  Soil Map Of The World (1974). Hasil penyempurnaan tersebut dinamakan system klasifikasi tanah Pusat Penelitian Tanah (1982).

            Sistem pusat Penelitian Tanah menggunakan enam kategori, yaitu: Golongan (Order), Kumpulan (Sub-Order), Jenis (Great Group), Rupa (Family) dan seri. Pada kategori golongan dan kumpulan, tanah dibedakan berdasarkan atas tingkat perkembangan dan susunan horizon tanah. Tanah tanah diberi nama baru mulai pada kategori jenis tanah (Great Group), sehingga nama-nama tanah dalam tingkat golongan (Order) dan kumpulan (Sub Order) tidak dikenal. Pada kategoti rendah (Rupa dan seri) penciri utamanya adalah tekstur dan drainase tanah.
            Pada mulanya dalam kategori macam, tanah dibedakan berdasarkan atas warna tanah, tetapi cara ini kemudian diperbaiki karena ternyata warna tanah tidak selalu menunjukkan perbedaan sifat-sifat tanah yang nyata.
            Nama-nama tanah dalam kategori seri diberi nama menurut tempat dimana seri tanah tersebut pertam kali ditemukan. Walaupun demikian penggunaan nama seri tersebut belum banyak dilaksanakan.
            Alfisol dalam system klasifikasi tanah dalam Pusat Penelitian tanah tahun (1982) termasuk kepada nama tanah Mediteran, yaitu: Tanah dengan Horison Penimbunan liat (Horison Argilik), dan kejenuhan basah lebih dari 50%
2. Sistem FAO/UNESCO
Sistem ini dibuat dalam rangka pembuatan peta tanah dunia skala 1:5000.000 oleh FAO/UNESCO. Untuk ini telah dikembangkan suatu system klasifikasi dengan dua kategori. Kategori yang pertama kurang lebih setara dengan kategori Great Group, sedang yang kedua mirip dengan Sub-Group dalam klasifikasi tanah USDA. Kategori yang lebih rendah dan lebih tinggi tidak dikembangkan.
            Untuk pengklasifikasian, digunakan Horison-horison penciri pada taksonomi tanah USDA dan sebagian dari klasifikasi tanah ini. Nama-nama tanah sebagian diambil dari nama-nama klasik terutama dari nama-nama tanah rusia yang sudah terkenal, serta nama-nama tanah yang digunakan eropa barat: Kanada, amerika Serikat dan beberapa nama baru yang khusus dikembangkan untuk tujuan ini misalnya Luvisol dan Acrisol.
            Sistem ini merupakan kompromi dari berbagai system. Tujuannya agar dapat diterima oleh semua pihak. Walaupun demikian system ini lebih tepat disebut sebagai suatu system satuan tanah daripada suatu system klasifikasi tanah karena tidak disertai dengan pembagian kategori yang lebih terperinci.
            Dalam system klasifikasi FAO/UNESCO Alvisol digolongkan dalam Luvisol. Tanah ini adalah tanah denga horizon argilik dengan mempunyai kejenuhan basah 50% atau lebih. Tidak mempunyai epipedon molik.
            Tanah ini umumnya terdapat didaerah Sub-Humid. Berbagai jenis Luvisol ada 8 kelompok yang diketahui yang normal adalah Orthik Luvisol, didaerah tropis terdapat Luvisol dengan Plinthink Luvisol, yang mengandung Ferri disebut Ferrik Luvisol. Terutama di sub-tropika, Luvisol memiliki Horison B merah atau coklat yang kuat yang disebut Khoromik Luvisol. Didaerah semi arid Luvisol mempunyai Horison kalsium atau konsentrasi serbuk kapur yang disebut klasik Luvisol, dan yang mengandung sifat hidromorfil pada lapisan 50 cm atas disebut Gleik Luvisol.
3. Sistem Taksonomi Tanah/USDA
Alvisol adalah tanah tanah dengan horizon Argilik atau Natrik dengan kejenuhan basah lebih dari 35%. Bila kejenuhan basah sangat tinggi maka makin kebawah jumlah konstan, sedang bila pada Horison Argilik kadarnya tidak tinggi maka jumlahnya harus bertambah makin ke horizon bawah. Tanah ini tidak memiliki epipedon molik, Oxik ataupun horizon spodik. Juga termasuk pada alvisol adalah tanah tanah yang kejenuhan basahnya kurang 35% tetapi pada horizon argilik didapatan lidah lidah horizon Albik dan kejenuhan basah makin bertambah ke horizon bawah.
Klasifikasi Alfisol untuk tingkat kategori tinggi sebagai berikut:
Order : Alfisol
            Alfisol adalah tanah tanah dengan sifat:
1.      Mempunyai horizon argilik atau natrik, tetapi tidak terdapat fragipan.
2.      Mempunyai fragipan yang didalam atau bawah horizon argilik, memenuhi semua persyaratan sebagai horizon argilik, Mempunyai selaput liat setebal lebih 1 mm pada beberapa bagian.
3.      Mempunyai kejenuhan basa 35% atau lebih (berdasar jumlah kation) pada kedalaman:
·         Bila Horison dibeberapa bagian mempunyai hue 5 YR atau lebih kuning, atau Value warna lembab 4 atau lebih, atau Value warna kering 1 unit lebih tinggi atau lebih dari value warna lembab, kedalamannya adalah yang paling dangkal dari criteria berikut:

1.      1,25 m dibawah batas atas horizon argilik
2.      1,80 m dibawah permukaan tanah
3.      Langsung diatas kontak litik atau paralitik.
·         Kalau Horison Argilik mempunyai warna lain atau epipedon mempunyai susuanan besar butir berpasir atau berpasir skeletal atau kedalamannya adalah yang paling dalam criteria berikut:
1.      1,25 m dibawah batas atas horizon argilik
2.      1,80 m dibawah permukaan tanah
3.      Langsung diatas kontak litik atau paralitik.
Sub Order Aqualf
            Sering jenuh air. Bila perbaikan drainase dilakukan, masih terdapat tanda-tanda karatan, kroma rendah, konkresi Fe-Mn.
Great-Group:
·         Plinthaqualf: Lebih 50% Plinthite pada kedalamn kurang dari 1,25 m
·         Natraqualf: Terdapat Horison Natric
·         Duraqualf: terdapat duripan
·         Tropaqualf: Regim Suhu Tanah iso.
·         Fragiaqualf :Terdapat fragipan
·         Glossaqualf :Horison albik menyusup (tongguing) kedalam horison argilik, dan tidak     terdapat duripan.
·         Albaqualf: Tekstur berubah sangat nyata dari horisan albic ke argilik.
·         Umbraqualf: Terdapat epipedon umbrik
·         Ochraqualf: Terdapat epipoden ochric
Sub Order Boralf
            Tidak terlalu basah seperti aqualf, regin temperatur non-iso, frigid atau lebih dingin, biasanya mempunyai horison albik yang menyusup kehorison argilik atau nantrik.
Great-group:
·         Paleboralf:  Batas atas horison argilik dalam diri 60 cm, tekstur lebih halus berlempung pada: beberapa horisan diatas horison argilik.
·         Fragidoralf: Terdapat fragipan
·         Natriboralf: Terdapat horison natrik
·         Cryboralf: Regin ttemperatur cryic
·         Entroboralf: Kejenuhan basah 60% atau lebih diseluruh horison argilik dalam beberapa bagian horison kadang kering
·         Glossoboralf: tidak pernah kering atau kejenuhan basah kurang dari 60% pada beberapa bagain bagian horison argilik.
Sub-order ustalaf
Regin kelembaban tanah ustic. Biasanya terdapat akumulasi karbonat pada dasar solum.
Great-group:
·         Durustalaf: terdapat duripan di bawah horison argilik atau natrik pada kedalaman dari 1 m
·         Plinthustalf : terdapat plinthite pada kedalaman kurang dari 1,25 m
·         Natrustalf :  terdapat horison natric
·         Palaeustalf : terdapat horison petrocalcic pada kedalaman kurang dari 1,5 m, atau horison argilik yang tebal dan padat.
·         Rhodustalf: warna horison argilik lebih merah dari 5 YR
·         Haplustalf: Ustalf yang lain.


Sub-Order Xeralf
Regin kelembaban tanah Xeralf
Great-group:
·         Durixeralf        - Terdapat duripan pada kedalaman kurang dari 1m.
·         Plinthoxeralf   - Terdapat horison natric
·         Rhoboxeralf    - warna horison argilic lebih merah dari 5 YR
·         Palexeralf        - Tebal solum lebih dari 1,5 m
·         Haploxeralf     - Xeral yang lain
Sub-Order Udalf
Regin kelembaban tanah udic
Great-group:
·         Agriudalf: Terdapat horison agric
·         Natrudalf: Terdapat horison natric
·         Ferrudalf: Pada horison argilic terdapat horison albic terputus-putus dan nodule besi dengan diameter 2,5-5 mm
·         Glossudalf: Terdapat horison albic yang menyusup kedalam horison argilic
·         Fraglossudalf: Terdapat fragipan dan horison  albic yang menyusup kedalam horison algilic
·         Paleudalf:  Solum lebih tebal dari 1,5 m, liat maximum kurang 20% dari kandungan liat maximum pada kedalaman kurang dari 1,5 m
·         Rhodudalf: Warna horison argilic lebih besar dari 5 YR dan value kurang 4
·         Tropudalf: Regin suhu tanah iso
·         Hapludalf: Udalf yang lain




4.Penyebaran di Indonesia
   Alfisol ( tropudalf dan hapludalf) dijumpai di semua kepulauan Indonesia, baik yang ada didataran rendah maupun dataran tinggi.
Tropudalf terdapat di semua kepulauan Indonesia masing-masing Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya, Bali, NTB dan NTT. Di Jawa tersebar didaerah  Bagian Timur Pulau Jawa dan Madura, pantai Utara dekat Tuban dan sebelah Selatan sukabumi ( Jawa Barat). Di Sumatera terdapat di Pantai Selatan dekat Aceh, Pulau Siberut dan Sumatera Selatan. Di Pulau Sumbawa dijumpai di pantai selatan. Di Kalimantan dijumpai di daerah Kalimantan Timur dekat Tarakan. Disulawesi dijumpai di Sulawesi Selatan, Tenggara dan Sulawesi Tengah. Di Irian Jaya dijumpai dipulau Batanta, kepala burung dekat daerah Fak-fak serta Biak. Di NTB dan NTT dijumpai di Pulau Sumba, Timor dan Kepulauan Alor.
Disekitar Tuban Jawa Timur dijumpai rhodudalf, anthraquic tropudalf, dan typic haplustlaf.

C. PEMANFAATAN TANAH
1. Pemanfaatan Sekarang
   Alfisol apabila mendapat air secukupnya dapat ditanami tebu, padi dan tanaman buah-buahan secara intensif.
Pemanfaatan alfisol di Pulau Jawa, Sulawesi dan Nusa Tenggara dalam areal yang terdapat diusahakan untuk tanaman padi sawah tanah-tanah ini terdapat dikaki bukit dan dataran berombak pada gunung berapi tua, batu kapur dan bukit-bukit. Luas areal tanah ini sekitar 350.000 hektar dengan produksi sekitar 3-4 ton per hektar di daerah-daerah yang beririgasi.
Di daerah Playen ( Gunung Kidul) diusahakan sebagai hutan jati dengan tanaman bawah lantana cemara.
Di daerah lainnya sebagian besar telah diusahakan dengan berbagai tanaman baik semusim maupun tahunan.

2. Kendala-kendala
   Tanah alfisol sebagian besar telah diusahakan untuk pertanian termasuk tanah yang subur meskipun demikian masih dijumpai kendala-kendala yang perlu mendapat perhatian dalam pengelolaannya.
Kendala-kendala tersebut antara lain:
-          Pada beberapa tempat dijumpai kondisi lahan yang berlereng dan berbatu.
-          Horison B argilik dapat mencegah distribusi akar yang baik pada tanah dengan horison B bertekstur barat.
-          Pengelolaan yang intensif dapat menimbulkan penurunan bahan organik pada lapisan tanah atas.
-          Kemungkinan fiksasi kalium dan amonium mungkin terjadi karena adanya mineral illit
-          Kemungkinan terjadi erosi untuk daerah yang berlereng.
-          Kandungan P dan K yang rendah.
3. Pembahasan 
      Di beberapa tempat di temui alfisol berada pada daerah yang berlereng. Meskipun tanah ini mempunyai sifat fisik dan yang kimia yang baik, bahaya erosi perlu mendapat perhatian karena erosi dapat menyebabkan harison argilik muncul di permukaan dan tanah menjadi kurang baik. Untuk kondisi ini pengelolah lahan perlu mendapat perhatian antara lain dengan cara penanam menurut contour dan atau pembuatan terasiring.
      Kendala penurunan bahan organic pada lapisan atas mungkin terjadi karena adanya pengelolaan lahan yang intensif, untuk itu di perlukan suatu cara pengelolaan yang khusus di samping dengan menambahkan bahan organik, sistem budidaya lorong dapat disarankan sebagai alternative pemecahan masalah ini.
      Kandungan P dan K yang rendah dapat di tanggulangi dengan penumpukan secukupnya dengan persyaratan kendala-kendala yang lainnya sudah dapat di kendalikan. Kendala yang lainnya adalah horizon B argilik dapat mencegah distribusi akar yang baik pada tanah horizon B bertekstur berat. Pemecahan permasalahan ini dengan cara pengolahan tanah yang dalam atau pembudidayaan yang mempunyai penetrasi akar yang mampu menembus lapisan tersebut atau pembudidayaan tanaman yang mempunyai perakaran dangkal.
      Cara terakhir adalah bila semua kendala tidak bias di kendalikan karena berbagai iaktor, maka tanah tersebut sebaiknya di kembalikan pada kondisi semula yaitu di upayakan untuk tanaman hutan atau tanaman tahunan/perkebunan.



















BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1.      Penyebaran tanah alfisol di Indonesia antara lain di pulau jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Kalimantan, Irian Jaya, Bali, NTB, Dan NTT.
2.      Sebagian besar alfisol telah diusahakan untuk pertanian, antara lain untuk persawahan, perkebunan, horticultural dan lain-lain.
3.      Factor-faktor pembentuk alfisol yang terpenting adalah bahan induk, relief, iklim, organism, dan waktu.
Bahan induk alfisol umumnya terbentuk dari bahan induk yang mengandung karbonat. Terdapat hubungan antara geomorfologi dengan pembentuk alfisol.
Alfisol biasanya ditemukan pada daerah yang beriklim Aw, Am, menurut Kopen dan tipe curah hujan C,D, dan E menurut Schmidt dan Ferguson. Didaerah yang beriklim sedang terdapat hubungan yang jelas antara jenis tanah dan vegetasi tetapi untuk daerah tropis seperti Indonesia kurang begitu jelas. Lamanya pembentukan alfisol dipengaruhi ileh bahan induk dan factor lingkungan yang mempengaruhi.
4.      Proses pembentukan alfisol adalah meliputi urutan sebagai berikut: pencucian karbonat, pencucian besi, pembentukan epipedon ochrik ( horizon A1), pembentukan horizon albik dan pengendapan argilan.
5.      Di Indonesia diketahui terdapat tiga group alfisol yaitu tropudalf, hapludalf, dan rhodudalf.
6.      Kendala-kendala yang dijumpai pada alfisol antara lain:
a.       Kondisi lahan yang berlereng
b.      Horizon B argilik dapat mencegah distribusi akar yang baik pada tanah dengan horizon B yang bertekstur berat.
c.       Pengelolaan yang intensif dapat menimbulkan penurunan bahan organik pada lapisan atas.
d.      Kemungkinan terjadinya fiksasi kalium dan ammonium.
e.       Kemungkinan erosi pada daerah yang berlereng.
f.       Kandungan unsure P dan K yang rendah.
7.      Pengelolaan tanah sebaiknya dilakukan dengan alternative sebagai berikut:
a.       Pembuatan terasiring pada lahan yang berlereng
b.      System budidaya lorong.
c.       Pemupukan yang secukupnya.
d.      Pengelolaan air yang baik
B. SARAN
            Penggunaan alfisol apabila karena berbagai hal factor kendalanya tidak dapat ditanggulangi sebaiknya diarahkan penggunaannya untuk hutan dan tanaman tahunan/perkebunan.



















DAFTAR PUSTAKA

Boul S.W.: F.D. Hole dan R.J. Mc Cracken. Soil Genesis and Classification. The Iowa State. University Press. Amer 1973.
Darmawijaya, M.I. Klasifikasi Tanah. Dasar Teori Bagi Peneliti Tanah dan Pelaksana Pertanian di Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. 1990.
Hardjowigeno, S. Genesis dan Klasifikasi Tanah. Fakultas Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. 1985.
_____________Ilmu Tanah. PT. Mediyatama Sarana Perkasa. Jakarta. 1987.
Hakim, M.; M.Y. Nyakpa, A. M. Lubis; S.G. Nugroho; M.R. Saul; M.a. Diha; Go Ban Hong; H.H. Bailey. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Penerbit Universitas Lampung. 1986. Bandar Lampung.
Munir, M. Geografi, Perkembangan dan Penyebaran Tanah di Indonesia. Makalah Persyaratan Program Doktor Fakultas Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. 1984.
Sarief, E.S. Ilmu Tanah Pertanian. Pustaka Bandung. 1986.
Blecker P.; P.A. Healy. Analytical Data of Papua New Guinea Soils. Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization, Australia. 1980.
Darmawijaya, M.I. Klasifikasi Tanah. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. 1990.
Delvin, S.F. ; Mary C. Vs. F. Soil Morphology Genesis and Clasification. Jonh Wileay and Sons, Toronto, Canada. 1989.
Soepardi, G. Sifat dan Ciri Tanah. I.P.B. Bogor. 1983.
Purwowidodo, Genesis Tanah. I.P.B. Bogor. 1991.
Halim, N. Dkk. Dasar-dasar Ilmu Tanah, Universitas Lampung. Bandar Lampung.1988.
Munir, M. Geografi, Perkembangan Tanah di Indonesia Fakultas Pasca Sarjana I.P.B. Bogor. 1983.
Soil Survey Staff, Keys to Soil Taxonomy, Fourth Edition. Virginia Polytechtic Institute an State University. Blachs-burg, Virginia. 1990.




                            





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar